Oleh : Moh. Habibullah & Mizan Syahroni
Tema : relasi islam dan ilmu pengetahuan
Topik : pandangan para ulama klasik terhadap sains
Opini
: sebagian besar ulama terdahulu sangat menjunjung tinggi ilmu
pengetahuan dan ada beberapa dari mereka yang hanya bersikap zuhud
(mengutamakan cinta akhirat dan tidak terlalu mementingkan urusan dunia)
mereka beralasan bahwa hidup di dunia hanya bersifat sementara. Relasi
yang terjadi antara ulama dan ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan
agama itu sendiri karena didalam agama islam terdapat suruhan untuk
menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.
Alasan :
A. Bukti-bukti
1. Banyak
dari ulama muslim klasik yang menjadi pelopor atau pencetus ilmu
tertentu serta membuat riset / buku mengenai kajian ilmu tertentu.
2. Terdapat masa keemasan dimana ilmu pengetahuan sangat dihargai.
B. Pertanyaan
1. Apa yang melatar belakangi sebagian ulama terdahulu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan?
2. Apa yang menjadi penyebab menurunnya kepedulian ulama terhadap ilmu pengetahuan umum?
PEMBAHASAN
Bagaimana pemikiran ulama terdahulu terhadap ilmu pengetahuan?
Ulama
(salaf) terdahulu berpendapat atau berpandangan bahwasanya mempelajari
ilmu umum atau ilmu sains hukumnya fardhu kifayah, sedangkan mempelajari
ilmu agama hukumnya fardhu ‘ain.
Pembagian ilmu antara fardhu
‘ain dan fardhu kifayah tidak perlu dipahami secara dokotomis atau
saling betentangan, karena ini hanyalah pembagian hirarki ilmu
pengetahuan berdasarkan kepada tingkat taklif kebutuhan, prioritas, dan
kebenarannya. Pada praktiknya ia mesti dilihat dalam satu kesatuan yang
pada akhirnya harus saling melengkapi, karena efek dari membedakan
antara fardhu ‘ain dan fardhu kifayah yang saling bertentangan adalah
berkembangnya pemikiran yang menghadapkan secara diametral antara akal
dan wahyu. Padahal dalam sistem epistemologi islam sudah jelas bahwa
wahyu adalah sumber pengetahuan dan akal adalah alat untuk memahami
wahyu.
Ulama-ulama terdahulu tidak pernah membedakan antara ilmu
agama dan ilmu umum mereka menganggap semua itu penting, sebab dalam
menuntut ilmu, ilmu agama sangatlah perlu karena ia merupakan kebutuhan
dasar atau sebagai pondasi dalam mencari atau menuntut ilmu-ilmu
lainnya. Bukti bahwa ulama terdahulu itu tidak mengenyampingkan disiplin
ilmu tertentu ialah dari otoritas keilmuannya. Contohnya ibnu rusydi,
beliau merupakan ahli filsafat, ahli fiqih, sekaligus seorang pakar
kedokteran, ia bisa dikatakan seorang ulama dan ilmuan. Ibnu khaldun,
beliau merupakan sosiolog islam ternama sekaligus seorang ahli fiqih.
Ibnu nafis, beliau seorang ahli mata dan juga ahli fiqih. Jadi bisa
disimpulkan bahwasanya ulama terdahulu hampir tidak mengenal istilah
dikotomi ilmu, tidak ada ilmu yang berdiri sendiri, semuanya saling
terkait dan saling melengkapi.
Tidak sedikit Al-Qur’an dan hadits
nabi yang menganjurkan dan mendorong manusia untuk menggunakan akalnya
dan banyak berpikir guna mengembangkan intelektualnya. Dengan penggunaan
akal itulah manusia dapat mengasah intelek untuk kemudian menimbulkan
sikap kecendikiawanan dan kearifan baik terhadap diri sendiri,
masyarakat, lingkungan, maupun terhadap tuhan. Banyak kata dalam
Al-Qur’an yang mengandung arti berpikir selain dari kata akal, yang bisa
kita artikan bahwasanya ALLAH SWT menyeru kita untuk berpikir,
meningkatkan keintelektualan pada diri kita. Dalam Al-Qur’an juga
disebutkan bahwasanya ALLAH SWT akan mengangkat derajat orang yang
beriman dan berilmu beberapa derajat.
Al-Ghazali ialah ilmuan
sekaligus ulama yang menulis kitab IHYA ULUMUDDIN (kebangkitan ilmu
agama), dari judulnya saja kita bisa melihat dan menyimpulkan bahwasanya
sebelum kitab ini ditulis sempat terjadi kesenjangan antara ulama yang
mempelajari ilmu sains dengan ulama yang mempelajari ilmu agama atau
pada masa itu banyak ulama klasik yang mempelajari ilmu sains dan ilmi
agama sempat terlupakan sehingga beliau menulis kitab tersebut, yang
menyebabkan atau mempengaruhi pola berpikir umat. Dan berkembanglah ilmu
agama islam, sejalan dengan itu ilmu-ilmu non agama mengalami
kemunduran. Hasan Abd Al-A’la berpendapat bahwasanya pemikiran itu
keliru.
Adapun pendapat, manusia yang hanya faham
mengenai ilmu eksakta atau alam tapi kurang dalam hal ilmu agama bukan
termasuk kedalam kategori ulama. Mereka hanyalah seorang ilmuwan atau
cendikiawan dari golongan moderat (muqtasidah) yang selalu mengambil
jalan aman. Mereka takut mengambil resiko dalam mengakui diri sebagai
seorang muslim yang kaffah.
PENDAPAT DISERTAI KESIMPULAN
Awal
masa islam penyebarannya sangat mudah untuk diterima oleh banyak kaum
,mengapa demkian ,hal itu sebab islam yang datang di masa itu ialah
islam yang belum dicampur adukan oleh pemikiran pemikiran manusia yang
hanya menggunakan akal rasional nya saja beserta nafsu. Yang manjadikan
islam terbagi beberapa golongan. Sebenarnya untuk menjadi seorang islam
yang kaffah ialah harus berpegang dengan teks ajaran agama yaitu qur’an,
islam tidak melarang kita untuk berbeda beda pendapat namun harus
dibatasi dengan al-qur’an itu sendiri, karena ilmu pengetahuan yang
hakiki ialah yang tidak bertolak belakang dengan al-quran , menurut
ilmuan terkenal dan pemenang hadiah nobel albert ensten , beliau berkata
: sains tanpa agama itu cacat dan agama tanpa sains itu buta, jadi jika
kamu ingin mempelajari ilmu konvensional jadikan lah ilmu tersebut
sebagai jalan untuk mendekatkan kamu dengan sang maha pencipta.
Orang
semakin cerdas semakin dekat dengan agama, karna semakin dia mengetahui
sejumlah pengetahuan, mereka akan berfikir tentang keajaiban penciptaan
tuhan terhadap ciptaannya contohnya saja antena pada udang di laut
masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda kalau difikir fikir fungsi
tersebut tidak terbentuk dengan sendirinya pasti ada yang mengatur hal
tersebut ,contoh lain ialah hembusan angin , bumi yang berputar pada
porosnya dan lain-lain pasti ada yang mengatur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar